Proyek Mbappe: 'Kylian Mbappe akan jadi pemain terbaik Prancis sepanjang masa'

Sumber gambar, Reuters
- Penulis, Sean Kearns
- Peranan, BBC Sport
- Penulis, Andy Cryer
- Peranan, BBC Sport senior journalist
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 6 menit
Just Fontaine, Michel Platini, Jean-Pierre Papin, Thierry Henry, Olivier Giroud.
Prancis memiliki banyak penyerang luar biasa selama bertahun-tahun. Namun tidak ada yang lebih baik—setidaknya dalam hal mencetak gol—daripada Kylian Mbappe.
Penyerang Real Madrid itu menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Prancis setelah membukukan gol ke-58 untuk Les Bleus pada laga pembuka Piala Dunia melawan Senegal, di usia 27 tahun.
"Selamat Kylian," kata Giroud di BBC One, saat menjadi komentator untuk pertandingan Prancis melawan Senegal.
"Saya senang untuknya"
"Memang sudah diperkirakan. Dia akan memecahkan setiap rekor—jumlah pertandingan memperkuat timnas dan jumlah gol. Saya pikir dia bisa dengan mudah mencapai 100 gol dan mungkin [memecahkan] rekor Piala Dunia milik Miroslav Klose. Dia telah menunjukkan performa hebat di Piala Dunia dan pertandingan besar."
58 gol Mbappe tercipta hanya dalam 99 pertandingan untuk Prancis. Gol yang dia cetak ke gawang Senegal menjadi gol ke-14 di Piala Dunia—hanya dua di belakang Klose dari Jerman, yang memegang rekor Piala Dunia dengan 16 gol.
"Banyak rekan setim bertanya kepada saya tentang dia," tambah Giroud.
"Bagi saya itu hanya soal ambisi dan kepercayaan diri.
"Dia tahu ke mana ingin pergi, dia adalah pemimpin dan Anda bisa melihat sejak usia muda dia sangat percaya diri. Dia matang untuk usianya. Dia rekan setim yang baik, dia talenta luar biasa dan saya pikir dia pemimpin sejati di dalam dan luar lapangan."

Sumber gambar, Getty Images
Pakar sepak bola Prancis, Julien Laurens, percaya Mbappe akan menjadi pemain terbaik dalam sejarah negara itu.
"Masih banyak lagi yang akan datang darinya, tetapi jika kita berhenti sekarang, Zinedine Zidane dan Michel Platini tetap menjadi dua pemain Prancis terbaik sepanjang masa," kata Laurens.
"Setelah itu ada Mbappe di depan Thierry Henry, Antoine Griezmann, Olivier Giroud, dan lainnya.
"Bukan hanya karena gol-golnya, tetapi kepemimpinannya sekarang sebagai kapten di lapangan, memenangkan Piala Dunia pada 2018, mencetak hat-trick di final pada 2022.
"Saya memprediksi dia akan menjadi nomor satu pada akhir kariernya. Dia masih bisa bermain setidaknya satu Piala Dunia lagi setelah ini dan Piala Eropa, jadi dia mungkin akan menjadi pemain terbaik yang pernah kami miliki."
Angka dan pencapaian
Setelah pertama kali memperkuat timnas Prancis pada Maret 2017, Mbappe baru mencetak gol pertamanya pada penampilan keempat, dalam kemenangan 4-0 kualifikasi Piala Dunia melawan Belanda.
Pada hari yang sama, Paris St-Germain menyepakati perjanjian untuk meminjam Mbappe yang baru berusia 18 tahun dari AS Monaco selama satu musim, dengan opsi pembelian sebesar £165,7 juta.
Klub Paris tersebut tentu saja mengaktifkan opsi untuk merekrut Mbappe—menjadikannya pemain remaja termahal dalam sejarah sepak bola.
Saat Mbappe menyelesaikan kepindahannya ke ibu kota Prancis, dia sudah menjadi pahlawan nasional.
Baca juga:
Dia menjadi motor utama perjalanan Prancis menuju gelar Piala Dunia 2018, menjadi pemain Prancis termuda yang mencetak gol di Piala Dunia, dan remaja kedua—setelah Pele—yang mencetak gol di final Piala Dunia.
Mbappe juga dinobatkan sebagai pemain muda terbaik turnamen sebagai pengakuan atas penampilannya.

Sumber gambar, Getty Images
Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, ia telah memantapkan diri sebagai pemain kunci Prancis.
Saat itu dia berusia 23 tahun dan menjadi pemain kedua setelah Geoff Hurst dari Inggris yang mencetak hat-trick di final Piala Dunia—meskipun kalah dari Argentina yang dipimpin Lionel Messi melalui adu penalti.
Sebuah proyek yang terwujud
Mbappe dan seluruh keluarganya selalu memiliki tujuan agar sang penyerang mencapai puncak sepak bola dunia. Maka lahirlah 'Proyek Mbappe'.
"Kylian hanya sekolah dan sepak bola," kata teman masa kecilnya, Rayan Viyanga, dalam dokumenter BBC Sport berjudul Mbappe.
"Sekolah, sepak bola, rumah."

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Mbappe lahir di pinggiran Paris, di daerah Bondy pada 1998, hanya lima bulan setelah Prancis memenangkan Piala Dunia untuk pertama kalinya.
Apartemen keluarganya menghadap ke lapangan sepak bola AS Bondy, tempat ayahnya, Wilfried, menjadi pemain yang kemudian menjadi pelatih.
"Kylian sudah satu langkah di depan banyak pemain lain di AS Bondy," kata Viyanga.
"Dia lebih maju untuk kelompok usianya dan ingin bermain dengan yang terbaik. Itu aturan ketatnya, bermain dengan yang terbaik."
Laurens menambahkan:
"Sebagai anak-anak, dia sudah mempelajari lagu kebangsaan La Marseillaise pada usia tiga tahun agar siap menyanyikannya ketika debut itu datang."
Mbappe menempelkan foto idolanya, Cristiano Ronaldo, dan menonton rekaman lama Zinedine Zidane, pemain bintang Real Madrid.
Baca juga:
Dia mendapat motivasi dari ibunya, Fayza Lamari, mantan pemain bola tangan profesional.
Pengaruh lainnya datang dari Jires Kembo Ekoko, saudara angkatnya, yang lebih dulu dipilih ke akademi sepak bola Prancis di Clairefontaine. Ekoko kemudian bermain untuk Rennes di Ligue 1.
Matt Spiro, penulis dan pakar sepak bola Prancis, mengatakan kepada BBC Sport:
"Kylian awalnya merasa sedikit kesulitan di Clairefontaine. Dia berada di sana selama dua tahun dan pada tahun pertama, dia jelas bukan yang terbaik di kelompoknya.
"Mbappe bermain di sisi sayap dan sering terlihat murung.
"Dia mengalami pertumbuhan pesat menjelang akhir tahun pertama, dan pada tahun kedua dia benar-benar mulai menunjukkan kualitasnya."
Namun kenaikannya yang cepat bukan kejutan. Bahkan Nike sudah memberinya sepatu gratis saat usianya baru 10 tahun.

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Mbappe, yang sudah dipantau klub-klub terbesar Eropa sejak usia dini, meninggalkan Paris untuk bergabung dengan Monaco pada usia 14 tahun. Dia sempat berlatih dengan Chelsea dan Real Madrid, tetapi keluarganya berkeras ia tetap di Prancis selama masa remaja.
Pada usia 16 tahun 347 hari, ia menjadi pemain termuda dalam sejarah AS Monaco—memecahkan rekor Thierry Henry—saat tampil sebagai pemain pengganti pada menit ke-88 melawan Caen.
Tiga bulan kemudian, ia menjadi pencetak gol termuda klub dengan gol untuk tim senior melawan Troyes, memecahkan rekor milik Henry.
"Ketika dia menembus tim utama di Monaco, Anda bisa melihat talenta yang sangat unik," kata Laurens.
"Kami memiliki banyak pemain muda berbakat, tetapi dia memiliki sesuatu yang sedikit berbeda."
Menjadi pemimpin sejati
Tak lama setelah bergabung dengan AS Monaco, Mbappe dan rekan-rekannya diberi tugas membuat desain sampul majalah dengan gambar diri mereka.
Pilihan paling logis adalah majalah olahraga, atau mungkin majalah mingguan nasional seperti Paris Match.
Pilihan Mbappe? Majalah Time yang diakui secara internasional.
Dan judul yang ia pilih? El Maestro.
Hanya empat tahun kemudian, setelah membawa Prancis juara Piala Dunia 2018 dan menjadi remaja kedua setelah Pele yang mencetak gol di final, impian besar itu menjadi kenyataan. Wajahnya benar-benar muncul di sampul Time.
Kemampuannya melihat gambaran besar meski masih sangat muda membantu melahirkan istilah 'Proyek Mbappe'.
Konsep tersebut, yang sedikit bernada gurauan, tentang anak-anak yang diberi pelatihan sepak bola intens sejak usia dini, menjadi viral di media sosial setelah kenaikan pesat Mbappe.
Popularitasnya menjadi bukti rencana yang disusun keluarganya sejak dini ketika mereka menyadari bakat luar biasa putra mereka.
Pada 2017, Mbappe menjadi remaja termahal di dunia ketika menolak godaan Real Madrid untuk bergabung dengan PSG. Real harus menunggu tujuh tahun lagi untuk mendapatkannya.
Dan dengan sorotan besar, datanglah ego yang tak terelakkan.
"Ego adalah dorongan yang diperlukan untuk sukses," kata mantan direktur performa PSG Martin Buccheit kepada BBC Sport.
"Namun lebih penting adalah bagaimana mengendalikannya.
"Kylian tidak selalu memiliki kendali itu. Tetapi jelas keluarganya—ibunya dan orang tuanya—selalu berada di belakangnya. Saya merasa mungkin orang tuanya memegang kendali tersebut."
Mbappe, yang ditunjuk sebagai kapten Prancis oleh Didier Deschamps pada 2023, masih belum memiliki medali juara Liga Champions dan belum meraih Ballon d'Or, sehingga terasa bahwa Proyek Mbappe masih akan terus berjalan.
"Dia sosok yang sangat berpusat pada diri sendiri, tetapi setelah mendapatkan ban kapten dia sadar harus menjadi pemimpin sejati," tambah Laurens.
"Bukan hanya soal gol dan assist, tetapi saya akan sangat terkejut jika dia mengakhiri karier tanpa memenangkan Ballon d'Or dan setidaknya satu Liga Champions.
"Dalam hal trofi, koleksinya akan lebih baik dan lebih besar dari Zidane dan Platini, dan begitu juga dengan rekor golnya."





























